Lagi asik-asik menikmati coffe break di hari pertama diklat dasar pemeriksa pajak di batu malang ini , tiba-tiba owek-owek (ringtone sms masuk) dari korlak saya..”selamat ke temanggung” … saya mengetik balasan :Alhamdulillah..beneran pak? …owek..owek.. dari teman saya si broniez “mbak , dirimu ke temanggung sama ma aku, sentul , kenyut, kutukupret, bujubuneng, kampret” …sms tak balas : “give me a big hurray..!! lapor kapan? ..tunggu aku ya”…owek-owek , sms dari teman lain “minta pulsa.. terakhir, aku pindah klaten”.. terus sisa hari itu diwarnai oleh owek-owek sampe malem hari..sms dari teman di penjuru kanwil Jateng II ini. Suka duka sedih gembira kecewa,,, tenggelam dalam euforia mutasi.
Tadinya saya sangat riang gembira ria mendengar saya mutasi ke temanggung saja yang bagi bisa dilaju hanya dalam waktu 45 menit dari rumah, meski karenanya saya harus mandi pagi2 sekali untuk itu. Saya pikir teman saya si broniez jg sedang berbahagia.. lantas saya telpon dia.. hah…suasana emosional gini enake telpon-telponan toh? “Tulululut..tulululut…haluuuuu…. halluuuuu…”
“halo,,, mbak..aku lagi kesal..marah!” …(eloh????!!!!)
“Hah??, knapa? Bukane seneng pindahnya ga jauh2?”
“tadinya aku terima pindah temanggung,,, tapi tau emak2 yang lain ga pada pindah jadi kesel deh, salah apa aku coba? Knapa aku yang pindah sedangkan yang lain ngga?”
“emang yang lain ga ikut pindah?? “ (baru ngeh,,nampaknya ada nada2 ketidakadilan disini)
“ngga… si bayem, si kangkung, si timun, si kubis, si kunyit, si jahe, si toge, si cabe, si buncis… pokoknya mereka yang dah lama disini malah ga dipindah”
“hah???!! “ (lho bukannya mutasi ini katanya buat mindahin yang dah berurat akar di kpp lama? Knapa yang di pindah malah yang baru-baru?)
“kesal aku…emang aku salah apa? “
“udah lah.. sante aja ada aku”
“tapi ga adil”
“ya kanyang dipindah ke temanggung yang pinter-pinter..maklum buat ngisi kpp baru dibentuk, butuh tenaga handal “ (mending narsis dari pada sakit hati kale)
“Lha katanya yang dipindah yang lama-lama.”
“sapa bilang? Kmrn pak kanwil kan bilangnya cuma ‘pegawai yang lima tahun’…bener kan, kita kan belum 5 tahun di kantor ini maksudnya lima tahun ke bawah barangkali”
“ya kali ya….tetep aja ga adil!!!”
“lha pindah bukane malah enak..ada si bujubuneng, si kutukupret, si sentul, si kampret, dah pada expert.. bisa jd tempat bertanya…coba kamu masih di sini… mo tanya kerjaan sama siapa? Sama si kubis? Si bayem? Si jahe? ..yang bener aja?..coba deh diliat lagi yg disisain disini sapa aja “ (menyombongkan diri dari pada tambah sakit hati)
“oh..iya..ya…aduh makasih ya… jadi sedikit tenang nih”
“sante aja…kan ada aku…ntar kita nglaju bareng” (menahan air mata saking kesalnya)
Lalu rasa sedikit kecewa tanpa bisa saya cegah menyelinap disini..
Saya tidak sedang kecewa dengan nasib saya yang kedepannya harus mandi pagi-pagi buta itu.. toh sejak program modernisasi dicanangkan yang sekaligus merupakan awal teror bagi pegawai DJP ini, ya soal penunjukan pejabat fungsional, ya soal grade ,ya soal kantor yang dibongkar bikin ati tidak nyaman, ya soal mutasi pelaksana dan AR, saya sudah mati rasa menghadapinya.Demi segala kesemrawutan dan ketidakpastian ini, saya memutuskan untuk menyiapkan mental dengan menunggu dan pasrah. Bagi saya ada saat dimana hidup ini terkadang tak lebih dari sebuah arena perjudian, yang menyodorkan beberapa pilihan kesempatan dan kemungkinan yang sama-sama tidak kita ketahui pasti seperti apa hasil akhirnya. Namun saya pastikan: bukan sebuah keharusan bagi saya untuk memilih… ada saat dimana justru saya memberikan kesempatan bagi ‘kesempatan’ untuk memilih saya.
Rumus ini saya temukan sejak saya menyadari bahwa tidak semua harapan kita bisa terkabulkan meski kita sudah berusaha untuknya. Seperti pepatah : Manusia berencana Tuhan menentukan. Jadi pada saat dimana saya menemui kebuntuan dalam memilih langkah.. yang bisa saya lakukan adalah pasrah, dan membiarkan takdir memilih saya. Saya bukan manusia yang religius yang selalu ingat untuk memohon petunjukNya dalam setiap kebimbangan.. namun saya percaya, bahwa tanpa memintapun, Tuhan akan memberikan yang terbaik buat saya. Di saat sudah tidak ada lagi usaha yang bisa saya lakukan, yang perlu saya lakukan hanya menunggu. Menunggu hikmah terbaik dari takdir yang telah dipilihkan Tuhan buat saya.
Saya juga sedang tidak iri dengan nasib baik teman-teman saya yang tidak katut mutasi. Toh setiap nasib manusia membawa keberuntungannya masing-masing.
Namun saya ga bisa mencegah hati pegawai saya yang jd ikut-ikutan sakit mempertanyakan keadilan. Sejak awal isu mutasi ini dihembuskan…sejak saya mengikuti diklat SAM dimana ibu yang perwakilan dari KITSDA itu mengatakan bahwa diharapkan dilakukan mutasi pelaksana dengan tujuan penyegaran,mengganti aparat lama dengan wajah baru, agar supaya wajib pajak tidak bertanya –tanya “dulu mau kok sekarang ngga”…kemudian sejak yang terhormat bapak kakanwil mengunjungi KPP ini, sejak beliaunya memberi rambu-rambu bahwa kriteria pegawai yang dimutasi adalah yang telah lima tahun keatas di KPP setempat..saya sedikit menaruh harapan , syukurlah kalo memang kantor ini akhirnya benar-benar menjadi modern.. dan (maunya) barangkali saja saya tidak terjaring program mutasi ini.. karena saya belum ada 5 tahun bertugas di KPP ini. Namun ketika isu mutasi ini menjadi kenyataan… nyatanya saya, bronies,sentul, kenyut, gombal, gambul, pret-pret, dll yang notabene penduduk baru (lima tahun ga ada) justru yang terjaring mutasi. Sedangkan banyak pegawai yang sudah ngoyot (berurat akar) belasan tahun ngendon di kpp ini aman sentosa sajah posisinya. Sekali lagi saya tidak sedang iri hati. Namun saya sedang mempertanyakan keadilan. Barangkali jika isu mutasi ini tidak didahului oleh harapan dari ibu wakil KITSDA dan rambu-rambu dari bapak Kakanwil tersebut di atas, saya mungkin dapat membujuk hati pegawai saya untuk tidak akan sedemikian kecewanya. Barangkali jika ternyata kepindahan saya karena memang tenaga saya dibutuhkan untuk mensukseskan pembentukan kpp pratama yang baru nongol ini, nurani pegawai saya mungkin akan berbangga hati.. meski setelahnya saya akan memutuskan untuk tidak terlalu loyal dan patriot lagi dalam bekerja.. malas-malas saja..toh nyatanya di instansi ini kemalasan membawa berkah.. tidak dimutasi..tidak masuk fungsional apalagi AR..aman sentosa jadi pelaksana di tempat asal, dengan grade ber-take-home-pay yang tidak jauh berbeda dan beban kerja yang konon kabarnya juga tidak terlalu berat. Atau kalo masalahnya ada pada rasa belas kasihan.. okelah.. besok setelah saya cari suami yang satu kantor..saya akan bikin anak sebanyak-banyaknya.. banyak anak banyak berkah semakin dikasihani soalnya. Sekali lagi saya tidak sedang iri hati… saya cuma sedang berpikir untuk menjadi pegawai cukupan saja…cukup, ga usaha pinter-pinter.. cukup, ga usah rajin-rajin ..cukup, ga usah terlalu perduli dengan kerjaan…saya pikir itu lebih menguntungkan untuk menjalani sisa masa kerja saya di instansi ini…nyatanya, ya soal grade ya soal mutasi, ga ada pengaruhnya kali mo rajin mo ngga, mo pinter mo ngga, mo loyal mo nggak.. malah nampaknya justru berakibat buruk kalo kita terlalu mengabdi berbudi luhur pada instansi ini. Saya tidak sedang iri, saya sedang mempertanyakan keadilan,..bukan melulu buat saya..tapi juga buat instansi ini.
Ya…saya sedang mempertanyakan keadilan!.. karena saya tidak semulia Ebiet G Ade yang bisa menyanyikan dengan tulus kalimat ini “ cinta yang kuberi..sepenuh hatiku… entah yang kuterima…aku tak peduli…” ..Karena saya peduli! Bagi saya cinta harusnya tak melulu berisi pengorbanan yang ga jelas hasilnya!
-Batu, Selasa, 30 Oktober 2007 , pk: 00.00 WIB-