Archive for December, 2007

kawinan oh kawinan

Saturday, December 29th, 2007

Kawinan… sekarang menjadi menu wajib yang harus dihadiri semenjak saya dinyatakan telah dewasa. Kalo dihitung –hitung entah sudah berapa kali undangan kawinan mampir di meja kerja saya, dan tentunya berakibat pada terjalinnya pertemanan yang sangat kompak antara amplop, lem, serta lembaran uang hingga terbentuk sebuah kesatuan yang bernama Sumbangan. Bukan…saya bukan sedang keberatan atau merasa terganggu karena disuruh nyumbang..yah, walaupun, kalo boleh jujur nih.. ongkos2 sosial tak terduga seperti kondangan dan jamuan-jamuan sejenis lainnya ini kadang bikin anggaran keuangan jadi semrawut. Tapi beneran, saya ga keberatan…. Saya cuma mau ngomong, kalo saya jadi punya kebiasaan baru , sekaligus profesi baru …jadi pengamat pelaku kondangan.

Sebenarnya saya masih bertanya-tanya sampai sekarang, kenapa ya setiap acara kawinan pasti ada resepsi perayaan? Maksud dan tujuannya itu apa? Kalo hanya untuk mengumumkan ke khalayak ramai dan mengungkapkan rasa syukur kan bisa saja kirim-kirim kardus makanan ke seluruh khalayak yang pengen diberitahu, lengkap dengan teks ‘sudah menikah dengan tenang’  ditempel di tutupnya, kan jadinya lebih irit adil dan merata..setiap kepala keluarga dapat jatah dan pengumuman yang sama. Padahal ya, setelah saya amati, dalam setiap acara resepsi kawinan itu ..pasti..eh biasanya  jadi ajang pamer. Tau sendiri kan, etika berpesta: pakaian bagus nan rapi menjurus ke glamour, gandengan yang ga malu-maluin..omongan ditinggiin dikit. Dan untuk orang seperti saya, undangan kawinan adalah teror terbesar bagi jiwa klowor namun sederhana saya. Setiap undangan diterima, pikiran saya menerawang… mikirin baju apa yang pantes di pake di acara besok.. dan kesimpulan akhirnya, gak ada yang pantes.. secara tidak pernah punya gaun pesta… belum lagi soal sepatu…sepatu saya cuma satu, itu pula teronggok dalam posisi mengenaskan di filling cabinet belakang meja saya..karena saya jarang menemukan ukuran yang pas dengan kaki keturunan bule ini, maka dari itu sepatu tercinta yang tinggal satu-satunya ini saya ‘eman-eman’ disimpan di kantor, keluarnya kalo mau ketemu wp dan kakap doang. Lain itu, sendal jepit selalu setia menemani.

Hayah, kok malah nyritain diri sendiri… kembali ke penyelenggara kawinan… saya pernah dibikin heran sama tetangga saya, yang nekat bikin acara resepsi nikah besar-besaran.. modalnya dari hutang jangka pendek.. dengan harapan, dilunasi pake duit sumbangan, dan lebihannya lumayan buat memulai hidup baru. Kalo dilihat dari sudut pandang saya sebagai pelaku bisnis pulsa…dapat saya simpulkan bahwa usaha yang dijalankan tetangga saya ini terlalu beresiko, karena tetangga saya ini belum melakukan survey terhadap pangsa pasar dengan secermat-cermatnya..sehingga perkiraan omset hanya didasarkan pada ekpektasi nilai sumbangan masing-masing pengunjung (dipukul rata) sama besarnya. Sehingga diperoleh perkiraan angka biaya pembelian bahan baku sayur mayur dan lauk pauk yang sekiranya menghasilkan margin optimal dengan rumus perhitungan : nilai selembar amplop – nilai sepiring nasi = margin optimal. Dan ternyata kesimpulan saya benar, karena tujuan dan jenis kegiatan usahanya tidak disebutkan dengan jelas, pangsa pasar menengah kebawah jadi salah sangka menyangka bahwa hari itu sedang grand opening promosi gratis pengenalan produk, tetangga saya bangkrut…dan  terjerat kredit macet.

Hayah kok malah ngawur… kembali ke masalah sumbangan… setelah saya melakukan penyelidikan mendalam sebagai tindak lanjut pengamatan saya.. diperoleh hasil survey sebagai berikut:

-      90% memberi label nama pengenal pada amplop sumbangan  dan 10% lainnya tidak.

-      nilai sumbangan kawinan > dari nilai sumbangan kelahiran > dari nilai sumbangan orang sakit > dari nilai sumbangan kematian

-       nilai sumbangan kawinan untuk penyelenggara bergrade menengah ke atas > dari nilai sumbangan untuk penyelenggara menengah ke bawah

-      nilai sumbangan untuk acara yang diselenggarakan di gedung > dari acara yang diselenggarakan di rumah.

Lah, jadi heran lagi saya.. yang namanya sumbangan itu bukannya bantuan bagi yang membutuhkan dan bukan ajang bayar-bayaran utang. Kok jadi kebalik-balik gini ya, orang yang sakit atau ditinggal mati itu kan lebih membutuhkan uang karena jelas ga da persiapan, knapa malah dikasih paling sedikit, kelas menengah ke bawah itu kan juga lebih membutuhkan , kenapa dikasih lebih sedikit.. kalo acara di selenggarakan di gedung sumbangannya lebih gede, berarti bener dong resepsi kawinan tak lebih dari ajang bisnis doang..ada servis ada uang…hehe

Hayah… tambah ngawur… kembali ke pelaku kondangan… tau gak sih, para pelaku kondangan ini ternyata juga berprofesi ganda, sama seperti saya, pengamat sekaligus komentator.. bedanya saya mengamati dan mengomentari mereka… dan mereka mengamati tentang segala macam atribut perayaan termasuk kondisi tempat tinggal si empunya rumah apabila resepsi dilaksanakan di rumah tentunya, dekorasi, tampang penyanyi organ tunggalnya, model konde dan seragam kawinan serta terutama makanan yang di sajikan..untuk kemudian dikomentari dan diberi nilai yang sesuai. Dan tidak pernah ada yang pernah dapat nilai bulat 10.. seringnya sih dapat 6. In javanese , those attitudes called with “nyinyir”. Kenyinyiran inilah yang membuat saya jadi panik.. mikirin masa depan pesta pernikahan saya kelak.. mo dibikin model kayak apa ya supaya poinnya dapat nilai di atas standar sedikit lah. Padahal jauh di lubuk hati saya, mengangankan pernikahan yang ga pake pesta-pesta resepsi alias akad nikah doang, lantas minggat berlibur berbulan madu ke sebuah tempat yang jauh dan indah.. ke timbuktu misalnya…ga repot dan ga ngrepotin. Tapi sepertinya tetap saja hal tersebut bakalan tidak berkenan di hati kawan-kawan saya..merasa tidak dihargai,tidak dianggap penting karena tidak diberitahui kabar gembira yang menimpa seorang sahabat, katanya. Jadi serba salah kan? Ngadain pesta bingung yang seperti apa supaya para pengunjung puwasss… ga ngadain bisa-bisa disobek-sobek para penggemar..cape de.

–pernah di posting di Ciblog–

MAKAN TU GENGSI !

Saturday, December 29th, 2007

Membaca kisah nyata seorang guru yang merangkap jadi tukang becak untuk menghidupi keluarganya, tepatnya demi kelangsungan pendidikan anak-anaknya, saya jadi miris. Kemirisan saya bukan karena turut prihatin pada nasib guru yang sangat buruk di negara ini, melainkan karena membaca sebuah kalimat yang kurang lebih berbunyi “anak dan isteri saya tadinya tidak apa-apa saya menjadi tukang becak, namun sejak diberitakan mereka jadi tidak mau menyapa saya karena malu.”

Saya miris dengan pandangan hidup masyarakat di negara ini, yang terlalu membesar-besarkan gengsi dan tidak menghargai nilai perjuangan. Berapa banyak di manusia di negeri ini yang teramat malu merasa hina dina jika harus mengakui profesi mereka atau profesi orang tua mereka yang ‘hanya’ sebagai Tukang Becak, Tukang Batu, Tukang Bersih-bersih Rumah Orang dan Tukang-tukang lainnya.. Sebenarnya apa yang memalukan dari profesi Tukang Becak atau tukang lainnya? Toh, apa yang dikerjakan tetaplah sebuah profesi,sebuah perjuangan untuk memberi penghidupan (bahkan teramat halal) bagi hidupnya dan hidup keluarganya.

Saya kadang iri ketika melihat tayangan audisi American Idol, dimana beberapa peserta dengan bangga menjawab bahwa profesi mereka Tukang Kayu, Tukang Gali Kuburan, atau bahkan peramal. See, bagi mereka, penduduk negara yang jelas-jelas teramat lebih maju ketimbang negara ini, sebuah profesi apapun itu adalah kebanggaan, dari pada jadi pengangguran barangkali. Bandingkan dengan apa yang terjadi di negara ini, boleh disurvey seluruh KTP yang dimiliki oleh penduduk pria usia produktif di negara ini, tepatnya pada daftar isian pekerjaan,  saya yakin lebih dari 50% diisi dengan kata “swasta”. Swasta menjadi kata favorit untuk menyelamatkan muka ketimbang dituduh sebagai tukang atau pengangguran. Masih beruntung jadi wanita di negeri ini, yang bisa dimaklumi dengan sangat apabila pada kolom isian pekerjaan diisi dengan “ibu rumah tangga”. Saya kadang bertanya-tanya dari mana asalnya angka pengangguran yang diluncurkan oleh  Badan Pusat Statistik itu. Saya sedikit khawatir seandainya data itu diperoleh dari masing-masing kelurahan yang nota bene berasal dari berkas pendaftaran KTP yang diisi oleh warga sendiri, betapa tidak realistisnya angka pengangguran yang disajikan. Pantas saja kalo pemerintah sedikit tidak perduli dengan banyaknya pengangguran di negeri ini, karena dianggapnya angka tersebut masih dalam batas wajar. Toh sebagian besar penduduk di negeri ini sudah mendapat pekerjaan yang layak sebagai seorang ‘swasta’. Astaga.

Saya kira sah-sah saja seseorang ingin mempertahankan gengsinya. Hanya saja apa yang menjadi tolok ukur dari gengsi itu sendiri. Bagus, kalo gengsi ga ingin dibilang bodoh maka orang akan belajar lebih banyak. Bagus, kalo gengsi ga ingin dibilang tidak bermoral maka orang akan menjaga perilakunya. Bagus, kalo gengsi karena ga ingin dibilang miskin maka orang akan bekerja lebih keras. Sedangkan yang terjadi di negara ini yang menjadi tolok ukur gengsi adalah semata-mata uang dan kekayaan. Gengsi karena ketauan miskin tapi tidak mau bekerja keras malah sibuk cari utangan buat beli-beli barang penunjang penampilan supaya tidak dibilang miskin.  Yang menjadikan saya lebih miris lagi, penyakit gengsi keblinger ini tidak hanya menyerang manusia dewasa saja, namun juga sudah terpupuk sejak masih anak-anak. Banyak orang tua di kampung saya yang kebetulan dalam kategori kelas ekonomi menengah kebawah dibikin pusing tujuh keliling, karena anaknya merengek-rengek minta dibelikan hape, minta dibelikan PS, minta dibelikan motor hanya karena teman-temannya sudah punya dan ngga mau ketinggalan pergaulan. Dan bodohnya, para orang tua ini pun (karena tidak ingin dibilang tidak mampu mencukupi kebutuhan anak) mengiyakan saja, mencari uang entah dari ngutang pada siapa untuk menunjang penampilan anak kesayangannya itu. Padahal beberapa hari sebelumnya dan beberapa hari setelahnya keluh kesah mereka tetap sama tentang tunggakan SPP sekian bulan yang belum terbayar. Saya kira manusia di kampung saya merupakan sebagian kecil dari sebagian besar manusia di indonesa ini yang lebih memperhatikan penampilan ketimbang isi otak. Saya jadi membayangkan barangkali ketika anak-anak indonesia sedang merengek minta dibelikan hape dan motor, anak-anak di belahan bumi lain sedang merengek minta dibelikan buku, komputer, kanvas, gitar atau segala sarana penunjang minat pendidikannya. Astaga, pantas saja semakin hari kita semakin mudah dikadalin negara lain.

Karena memang dari kecil sudah terdidik untuk menyadari bahwa mempunyai uang dan kekayaan berlebih akan menaikkan gengsi, maka tidak heran apabila tujuan dari bersekolah bagi anak-anak di negeri ini adalah untuk mendaftar pekerjaan di kemudian hari. Jika setiap cita-cita anak indonesia ini adalah mendapat pekerjaan dengan mengandalkan ijasah sekolah, maka tak heran pendidikan di negara ini menjadi ajang bisnis alias dikomersilkan, sehingga sekolah yang konon katanya maju akan mengandung konsekuensi bayaran sekolah yang teramat mahal. Apabila untuk mendapatkan ijasah-untuk-mendaftar-pekerjaan saja sudah harus mengeluarkan ongkos yang banyak, maka ketika bekerja setidaknya harus memperoleh penghasilan yang sekiranya bisa balik modal , dan diusahakan agar memperoleh pendapatan maksimal agar kebutuhan gengsi terpenuhi. Apabila terbentuk opini masyarakat bahwa penghasilan-dari-profesi-yang-untuk-mendaftarnya-mengandalkan-ijasah mencukupi pemenuhan kebutuhan gengsi, maka sesuai dengan teori demand and suply, banyak permintaan semakin mahal harga yang ditawarkan, maka untuk dapat diterima harus punya modal yang tidak sekedar dengkul agar dapat memberi penawaran harga tertinggi. Semakin banyak modal untuk mendapatkan pekerjaan maka dicari penghasilan yang sekiranya bisa menutup dana yang dikeluarkan. Penghasilan yang tinggi dari sebuah pekerjaan akan…STOOOOPPPP!!!!!! Astaga…. Tidakkah sebenarnya kita ini sedang berputar-putar dalam lingkaran setan? maka jangan semata-mata salahkan pemerintah jika negara ini semakin bobrok.. karena apa yang terjadi memang bersumber pada pendewa-dewaan uang yang terlalu overdosis dari setiap manusia yang ada di negara ini.

Kalo sudah begini saya jadi takut.. barangkali manusia-manusia di negeri ini terutama anak-anak di negeri ini, tidak lagi punya mimpi lain selain mimpi menimbun kekayaan. Atau barangkali bangsa ini memang sudah terlalu takut untuk bermimpi, karena terkalahkan oleh gengsi?

–Pernah diposting di Ciblog–

Just a Silly Conversation…. don’t think it too much

Wednesday, December 19th, 2007

Silly no I

Lokasi : Dalam Mobil saat berangkat nglaju bersama menuju kantor

+ besok-besok kita gak kaya gini lagi kali ya, dah nyetir sendiri-sendiri

-   pengennya yang matic sih..

* parkiran kantor mesti di lebarin dong… ga muat kalo dah pada bawa sendiri

# kalo dah pada bawa, gw nebeng aja ya..kalo ga naik angkot aja deh.

+ ngirit ???!!!!

# ga lah, sayang aja udaranya dipolusiin asap banyak2.

+-*  ?????!!

Silly no. II

Lokasi : Warung lesehan ayam kremes…lagi makan siang bareng

+ yah..minuman gw kemasukan lalat dah

- eits..jangan diambil..dibenamin dulu, baru diambil

* knapa?

- emang gitu sunahnya

* iya..tapi kenapa???!!

@ kalo kaki kiri yang kecemplung..racunnya dinetralisir pake kaki kanan, gitu barangkali

# lho ?? kalo kaki kiri yang kecemplung ..berarti tu lalat sebenernya masih punya kesempatan hidup dong..lha knapa mesti dibenamin?.. emang kita berhak mencabut nyawanya?..kasian kan si anak dan istri lalat.

+-*@  ??????!!!!

+ dah dibenamin..terus gimana neh? Tetep diminum? Ntar kalo gw sakit perut ?

# lho..diinget2 dulu deh sunahnya..ada bagian kalimat yang bilang airnya jangan diminum ga?

+-*@  ??????!!!!

# repot-repot amat yak, tinggal pesen minum lagi kenapa??

Silly No III

Lokasi : Ruang tempat nonton TV…menjelang hari raya kurban

+ tahun ini cuma ada 6 kambing..mushola utara malah baru 1 kambing.

# knapa kambing-kambing itu ga dikumpulin aja jadi 1 sapi

- tadinya mo pada patungan beli sapi..taunya cuma terkumpul 4 orang

# sayang kan … dari pada 7 nyawa melayang..mendingan 1 aja. Lagian daging kambing ga sehat.

+ nah itu.. pedagang kripik bekicot.. berapa nyawa melayang dibuatnya setiap hari?

# ya lain.. bekicot kayanya ga punya pikiran deh.. kambing punya kale.. na itu bisa nangis kalo mo dikurbanin

+ oh..iya…waktu kambing disembelih.. yang lainnya pada blingsatan lho..teriak2 ga karuan gitu

@ ya iya lah….kambing juga punya mata hati dan perasaan.

+#-@$…………….<menerawang… membayangkan , seandainya terlahir sebagai kambing>

# hari gini, kenapa masih kurban hewan sih.. ga bisa ya diganti uang aja.. perasaan lebih berguna uang deh..dan tentunya tidak menyiksa makhluk hidup lain.

$ ya soalnya.. orang itu lebih sulit kalo disuruh ngeluarin duit buat nyumbang.. ketimbang kalo bentuknya barang , lebih gampang direlain deh kayanya

# lagian..kalo dalam bentuk uang..ga banyak orang lain yang tau to kalo kita nyumbang , ga sopan lah  kalo digembor2kan… kalo kambing kan di umumin pake corong masjid tuh…jadi semua orang tau..

+#-@$ ……….. ……………..< menerawang, mikirin nasib kambing>