kawinan oh kawinan

Kawinan… sekarang menjadi menu wajib yang harus dihadiri semenjak saya dinyatakan telah dewasa. Kalo dihitung –hitung entah sudah berapa kali undangan kawinan mampir di meja kerja saya, dan tentunya berakibat pada terjalinnya pertemanan yang sangat kompak antara amplop, lem, serta lembaran uang hingga terbentuk sebuah kesatuan yang bernama Sumbangan. Bukan…saya bukan sedang keberatan atau merasa terganggu karena disuruh nyumbang..yah, walaupun, kalo boleh jujur nih.. ongkos2 sosial tak terduga seperti kondangan dan jamuan-jamuan sejenis lainnya ini kadang bikin anggaran keuangan jadi semrawut. Tapi beneran, saya ga keberatan…. Saya cuma mau ngomong, kalo saya jadi punya kebiasaan baru , sekaligus profesi baru …jadi pengamat pelaku kondangan.

Sebenarnya saya masih bertanya-tanya sampai sekarang, kenapa ya setiap acara kawinan pasti ada resepsi perayaan? Maksud dan tujuannya itu apa? Kalo hanya untuk mengumumkan ke khalayak ramai dan mengungkapkan rasa syukur kan bisa saja kirim-kirim kardus makanan ke seluruh khalayak yang pengen diberitahu, lengkap dengan teks ‘sudah menikah dengan tenang’  ditempel di tutupnya, kan jadinya lebih irit adil dan merata..setiap kepala keluarga dapat jatah dan pengumuman yang sama. Padahal ya, setelah saya amati, dalam setiap acara resepsi kawinan itu ..pasti..eh biasanya  jadi ajang pamer. Tau sendiri kan, etika berpesta: pakaian bagus nan rapi menjurus ke glamour, gandengan yang ga malu-maluin..omongan ditinggiin dikit. Dan untuk orang seperti saya, undangan kawinan adalah teror terbesar bagi jiwa klowor namun sederhana saya. Setiap undangan diterima, pikiran saya menerawang… mikirin baju apa yang pantes di pake di acara besok.. dan kesimpulan akhirnya, gak ada yang pantes.. secara tidak pernah punya gaun pesta… belum lagi soal sepatu…sepatu saya cuma satu, itu pula teronggok dalam posisi mengenaskan di filling cabinet belakang meja saya..karena saya jarang menemukan ukuran yang pas dengan kaki keturunan bule ini, maka dari itu sepatu tercinta yang tinggal satu-satunya ini saya ‘eman-eman’ disimpan di kantor, keluarnya kalo mau ketemu wp dan kakap doang. Lain itu, sendal jepit selalu setia menemani.

Hayah, kok malah nyritain diri sendiri… kembali ke penyelenggara kawinan… saya pernah dibikin heran sama tetangga saya, yang nekat bikin acara resepsi nikah besar-besaran.. modalnya dari hutang jangka pendek.. dengan harapan, dilunasi pake duit sumbangan, dan lebihannya lumayan buat memulai hidup baru. Kalo dilihat dari sudut pandang saya sebagai pelaku bisnis pulsa…dapat saya simpulkan bahwa usaha yang dijalankan tetangga saya ini terlalu beresiko, karena tetangga saya ini belum melakukan survey terhadap pangsa pasar dengan secermat-cermatnya..sehingga perkiraan omset hanya didasarkan pada ekpektasi nilai sumbangan masing-masing pengunjung (dipukul rata) sama besarnya. Sehingga diperoleh perkiraan angka biaya pembelian bahan baku sayur mayur dan lauk pauk yang sekiranya menghasilkan margin optimal dengan rumus perhitungan : nilai selembar amplop – nilai sepiring nasi = margin optimal. Dan ternyata kesimpulan saya benar, karena tujuan dan jenis kegiatan usahanya tidak disebutkan dengan jelas, pangsa pasar menengah kebawah jadi salah sangka menyangka bahwa hari itu sedang grand opening promosi gratis pengenalan produk, tetangga saya bangkrut…dan  terjerat kredit macet.

Hayah kok malah ngawur… kembali ke masalah sumbangan… setelah saya melakukan penyelidikan mendalam sebagai tindak lanjut pengamatan saya.. diperoleh hasil survey sebagai berikut:

-      90% memberi label nama pengenal pada amplop sumbangan  dan 10% lainnya tidak.

-      nilai sumbangan kawinan > dari nilai sumbangan kelahiran > dari nilai sumbangan orang sakit > dari nilai sumbangan kematian

-       nilai sumbangan kawinan untuk penyelenggara bergrade menengah ke atas > dari nilai sumbangan untuk penyelenggara menengah ke bawah

-      nilai sumbangan untuk acara yang diselenggarakan di gedung > dari acara yang diselenggarakan di rumah.

Lah, jadi heran lagi saya.. yang namanya sumbangan itu bukannya bantuan bagi yang membutuhkan dan bukan ajang bayar-bayaran utang. Kok jadi kebalik-balik gini ya, orang yang sakit atau ditinggal mati itu kan lebih membutuhkan uang karena jelas ga da persiapan, knapa malah dikasih paling sedikit, kelas menengah ke bawah itu kan juga lebih membutuhkan , kenapa dikasih lebih sedikit.. kalo acara di selenggarakan di gedung sumbangannya lebih gede, berarti bener dong resepsi kawinan tak lebih dari ajang bisnis doang..ada servis ada uang…hehe

Hayah… tambah ngawur… kembali ke pelaku kondangan… tau gak sih, para pelaku kondangan ini ternyata juga berprofesi ganda, sama seperti saya, pengamat sekaligus komentator.. bedanya saya mengamati dan mengomentari mereka… dan mereka mengamati tentang segala macam atribut perayaan termasuk kondisi tempat tinggal si empunya rumah apabila resepsi dilaksanakan di rumah tentunya, dekorasi, tampang penyanyi organ tunggalnya, model konde dan seragam kawinan serta terutama makanan yang di sajikan..untuk kemudian dikomentari dan diberi nilai yang sesuai. Dan tidak pernah ada yang pernah dapat nilai bulat 10.. seringnya sih dapat 6. In javanese , those attitudes called with “nyinyir”. Kenyinyiran inilah yang membuat saya jadi panik.. mikirin masa depan pesta pernikahan saya kelak.. mo dibikin model kayak apa ya supaya poinnya dapat nilai di atas standar sedikit lah. Padahal jauh di lubuk hati saya, mengangankan pernikahan yang ga pake pesta-pesta resepsi alias akad nikah doang, lantas minggat berlibur berbulan madu ke sebuah tempat yang jauh dan indah.. ke timbuktu misalnya…ga repot dan ga ngrepotin. Tapi sepertinya tetap saja hal tersebut bakalan tidak berkenan di hati kawan-kawan saya..merasa tidak dihargai,tidak dianggap penting karena tidak diberitahui kabar gembira yang menimpa seorang sahabat, katanya. Jadi serba salah kan? Ngadain pesta bingung yang seperti apa supaya para pengunjung puwasss… ga ngadain bisa-bisa disobek-sobek para penggemar..cape de.

–pernah di posting di Ciblog–

Leave a Reply