MAKAN TU GENGSI !

Membaca kisah nyata seorang guru yang merangkap jadi tukang becak untuk menghidupi keluarganya, tepatnya demi kelangsungan pendidikan anak-anaknya, saya jadi miris. Kemirisan saya bukan karena turut prihatin pada nasib guru yang sangat buruk di negara ini, melainkan karena membaca sebuah kalimat yang kurang lebih berbunyi “anak dan isteri saya tadinya tidak apa-apa saya menjadi tukang becak, namun sejak diberitakan mereka jadi tidak mau menyapa saya karena malu.”

Saya miris dengan pandangan hidup masyarakat di negara ini, yang terlalu membesar-besarkan gengsi dan tidak menghargai nilai perjuangan. Berapa banyak di manusia di negeri ini yang teramat malu merasa hina dina jika harus mengakui profesi mereka atau profesi orang tua mereka yang ‘hanya’ sebagai Tukang Becak, Tukang Batu, Tukang Bersih-bersih Rumah Orang dan Tukang-tukang lainnya.. Sebenarnya apa yang memalukan dari profesi Tukang Becak atau tukang lainnya? Toh, apa yang dikerjakan tetaplah sebuah profesi,sebuah perjuangan untuk memberi penghidupan (bahkan teramat halal) bagi hidupnya dan hidup keluarganya.

Saya kadang iri ketika melihat tayangan audisi American Idol, dimana beberapa peserta dengan bangga menjawab bahwa profesi mereka Tukang Kayu, Tukang Gali Kuburan, atau bahkan peramal. See, bagi mereka, penduduk negara yang jelas-jelas teramat lebih maju ketimbang negara ini, sebuah profesi apapun itu adalah kebanggaan, dari pada jadi pengangguran barangkali. Bandingkan dengan apa yang terjadi di negara ini, boleh disurvey seluruh KTP yang dimiliki oleh penduduk pria usia produktif di negara ini, tepatnya pada daftar isian pekerjaan,  saya yakin lebih dari 50% diisi dengan kata “swasta”. Swasta menjadi kata favorit untuk menyelamatkan muka ketimbang dituduh sebagai tukang atau pengangguran. Masih beruntung jadi wanita di negeri ini, yang bisa dimaklumi dengan sangat apabila pada kolom isian pekerjaan diisi dengan “ibu rumah tangga”. Saya kadang bertanya-tanya dari mana asalnya angka pengangguran yang diluncurkan oleh  Badan Pusat Statistik itu. Saya sedikit khawatir seandainya data itu diperoleh dari masing-masing kelurahan yang nota bene berasal dari berkas pendaftaran KTP yang diisi oleh warga sendiri, betapa tidak realistisnya angka pengangguran yang disajikan. Pantas saja kalo pemerintah sedikit tidak perduli dengan banyaknya pengangguran di negeri ini, karena dianggapnya angka tersebut masih dalam batas wajar. Toh sebagian besar penduduk di negeri ini sudah mendapat pekerjaan yang layak sebagai seorang ‘swasta’. Astaga.

Saya kira sah-sah saja seseorang ingin mempertahankan gengsinya. Hanya saja apa yang menjadi tolok ukur dari gengsi itu sendiri. Bagus, kalo gengsi ga ingin dibilang bodoh maka orang akan belajar lebih banyak. Bagus, kalo gengsi ga ingin dibilang tidak bermoral maka orang akan menjaga perilakunya. Bagus, kalo gengsi karena ga ingin dibilang miskin maka orang akan bekerja lebih keras. Sedangkan yang terjadi di negara ini yang menjadi tolok ukur gengsi adalah semata-mata uang dan kekayaan. Gengsi karena ketauan miskin tapi tidak mau bekerja keras malah sibuk cari utangan buat beli-beli barang penunjang penampilan supaya tidak dibilang miskin.  Yang menjadikan saya lebih miris lagi, penyakit gengsi keblinger ini tidak hanya menyerang manusia dewasa saja, namun juga sudah terpupuk sejak masih anak-anak. Banyak orang tua di kampung saya yang kebetulan dalam kategori kelas ekonomi menengah kebawah dibikin pusing tujuh keliling, karena anaknya merengek-rengek minta dibelikan hape, minta dibelikan PS, minta dibelikan motor hanya karena teman-temannya sudah punya dan ngga mau ketinggalan pergaulan. Dan bodohnya, para orang tua ini pun (karena tidak ingin dibilang tidak mampu mencukupi kebutuhan anak) mengiyakan saja, mencari uang entah dari ngutang pada siapa untuk menunjang penampilan anak kesayangannya itu. Padahal beberapa hari sebelumnya dan beberapa hari setelahnya keluh kesah mereka tetap sama tentang tunggakan SPP sekian bulan yang belum terbayar. Saya kira manusia di kampung saya merupakan sebagian kecil dari sebagian besar manusia di indonesa ini yang lebih memperhatikan penampilan ketimbang isi otak. Saya jadi membayangkan barangkali ketika anak-anak indonesia sedang merengek minta dibelikan hape dan motor, anak-anak di belahan bumi lain sedang merengek minta dibelikan buku, komputer, kanvas, gitar atau segala sarana penunjang minat pendidikannya. Astaga, pantas saja semakin hari kita semakin mudah dikadalin negara lain.

Karena memang dari kecil sudah terdidik untuk menyadari bahwa mempunyai uang dan kekayaan berlebih akan menaikkan gengsi, maka tidak heran apabila tujuan dari bersekolah bagi anak-anak di negeri ini adalah untuk mendaftar pekerjaan di kemudian hari. Jika setiap cita-cita anak indonesia ini adalah mendapat pekerjaan dengan mengandalkan ijasah sekolah, maka tak heran pendidikan di negara ini menjadi ajang bisnis alias dikomersilkan, sehingga sekolah yang konon katanya maju akan mengandung konsekuensi bayaran sekolah yang teramat mahal. Apabila untuk mendapatkan ijasah-untuk-mendaftar-pekerjaan saja sudah harus mengeluarkan ongkos yang banyak, maka ketika bekerja setidaknya harus memperoleh penghasilan yang sekiranya bisa balik modal , dan diusahakan agar memperoleh pendapatan maksimal agar kebutuhan gengsi terpenuhi. Apabila terbentuk opini masyarakat bahwa penghasilan-dari-profesi-yang-untuk-mendaftarnya-mengandalkan-ijasah mencukupi pemenuhan kebutuhan gengsi, maka sesuai dengan teori demand and suply, banyak permintaan semakin mahal harga yang ditawarkan, maka untuk dapat diterima harus punya modal yang tidak sekedar dengkul agar dapat memberi penawaran harga tertinggi. Semakin banyak modal untuk mendapatkan pekerjaan maka dicari penghasilan yang sekiranya bisa menutup dana yang dikeluarkan. Penghasilan yang tinggi dari sebuah pekerjaan akan…STOOOOPPPP!!!!!! Astaga…. Tidakkah sebenarnya kita ini sedang berputar-putar dalam lingkaran setan? maka jangan semata-mata salahkan pemerintah jika negara ini semakin bobrok.. karena apa yang terjadi memang bersumber pada pendewa-dewaan uang yang terlalu overdosis dari setiap manusia yang ada di negara ini.

Kalo sudah begini saya jadi takut.. barangkali manusia-manusia di negeri ini terutama anak-anak di negeri ini, tidak lagi punya mimpi lain selain mimpi menimbun kekayaan. Atau barangkali bangsa ini memang sudah terlalu takut untuk bermimpi, karena terkalahkan oleh gengsi?

–Pernah diposting di Ciblog–

Leave a Reply