salam beretika? cape deuh…
Wednesday, January 30th, 2008Hari Kamis lalu , diutus kantor buat ikut acara ulang tahunan kanwil yang pertama. Acaranya, siang pertandingan volly dan tenis meja. Malem acara ramah tamah..alias makan makan sambil liat pertunjukan.
Soal acara ramah tamah ini….akhirnya ada hal yang menggelitik dan menginspirasi saya untuk bisa menulis lagi setelah sekian lama ga punya ide dan semangat untuk menulis.
Jadi ceritanya di malam itu, dimana kami para atlet yang sudah kelelahan sesiang tadi terkantuk-kantuk menunggu saat datangnya makan malam gratisan itu, dibukalah acara oleh sang MC dengan kata-kata standar pembuka acara dalam forum resmi di dunia birokrasi pemerintahan ini..”assalamualaikum wr wb, selamat malam, salam sejahtera, om swasti astu (maap kalo salah nulisnya)…..” yang membuat saya dalam keadaan setengah merem pengen sekali menjawab sambil meletakkan tangan di depan dada “amitabha”…tapi keinginan tinggal keinginan, karena saya harus garuk-garuk sehubungan dengan mendadaknya kuping saya gatal-gatal, tanda tanda saya sedang risih dan terganggu akan sesuatu… tapi yang jelas bukan ketombe! Mana ada ketombe di telinga!
Hihhhh… paling ga sreg deh, tiap denger salam beretika birokrasi itu…bikin risih, seperti layaknya saya sedang mendengar orang ngomong “amat sangat terlalu hebat sekali banget”… duh, jadi kepikiran kira-kira kalo JS Badudu mendengar ini gimana ya? Bisa bangkit dari kubur kale ya?? Ooopssss…JS Badudu sudah meninggal belum sih? Ya maap kalo ternyata belum.
Lantas, kebetulan kakak saya yang kerja di Diknas itu pulang kampung sabtu kemaren… saya tanya… gimana tuh ceritanya salam bisa jadi dijejerkan berderet2 kaya kereta gitu.. ternyata eh ternyata konon kabarnya semua itu buah dari yang namanya penataran (penataran apa kok lupa sayanya).. emang ada yang namanya etika memberi sambutan dalam birokrasi pemerintahan (bener kata ‘birokrasi’ yg dipake ato bukan ya? Lagi-lagi lupa)..kakak saya bilang.. coba tengok di swasta, jarang sekali salam berderet itu dipake.. paling juga cuma selamat siang, selamat malam selesai. Saya percaya aja, wong kakak saya sering berurusan dengan pihak swasta, jd saya kira memang demikianlah budaya salam menyalam di perusahaan swasta..pasti bentuk salamnya ga jauh dari prinsip praktis ekonomis.
Heran juga…apa maksudnya ya, kok bisa-bisanya segala macam salam dengan arti yang kurang lebih sama di borong semua diucapkan dalam satu tarikan nafas.. ga efisien dan lama-lama bisa bikin asma kalo menurut saya.. dan apakah hal tersebut sesuai dengan Kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Pak Badudu?hhhmmm… ato barangkali maksudnya menghormati segala macam golongan yang ada di negeri ini.. malah jadi aneh.. karena bertentangan dengan sila 3 Pancasila, Persatuan Indonesia. Na itu… dengan mengucap salam seperti itu bukannya menegaskan satu golongan beda dengan golongan lain. Terus yang kedua…knapa ‘assalamualaikum’ yang selalu diucapkan paling depan? Urutannya berdasar apakah? …..Aaaaarrrrrggghhhhh!!!!!! sulit dimengerti!!…. Knapa sih ga dirumuskan sebuah salam yang mengindonesia sekali..misalnya “selamat malam, semoga Tuhan memberkati kita”.. “selamat malam, semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan” ato apalah…kalimat salam yang universal yang bisa mengakomodir segala macam bentuk salam yang ada di negeri ini dan tentunya pantas untuk dipake di acara resmi..kan jadi lebih enak dan praktis tuh.. gak bikin belibet lidah, ga bikin gatal kuping. Kalo saran saya sih, salam yang sangat cocok untuk membuka semua jenis acara adalah “selamat menikmati hidangan yang disediakan!”..sederhana, mudah dipahami, manis terdengar,mengandung semangat persatuan, praktis, efisien, straight to the point- langsung ke tujuan.